Rencana pembukaan sekolah di bulan Juli kembali mendapat respons serius dari berbagai pihak.
Bila sebelumnya ditentang oleh para orang
tua pemilik anak usia sekolah melalui petisi online, kini datang pula
darti Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Respons tersebut menyusul sejumlah pihak
yang memberikan masukan terkait dengan dibukanya sekolah seiring
berakhirnya masa tanggap darurat Mei 2020, termasuk di beberapa daerah
yang mulai bersiap terapkan new normal.
Ketua Umum IDAI, dr. Aman B Pulungan dalam
wawancara di TVOne mengatakan, IDAI telah melaksanakan deteksi kasus
pada anak secara mandiri hingga 18 Mei 2020. Diketahui, jumlah anak
terpapar positif Covid-19 berjumlah 584 anak, dan 14 anak meninggal
dunia. Sedangkan jumlah PDP anak sebanyak 3.324 anak dan 129 anak PDP
meninggal dunia.
“Artinya, anak di Indonesia yang
terinfeksi dan meninggal (karena Corona) dibanding negara lain masih
cukup tinggi. Kami sebagai dokter anak penting untuk memperhatikan hak
anak untuk hidup dan sehat, ini harus kita lindungi, ini kita amati
terus datanya,” kata dr Aman di TVOne sebagaimana dikutip dari laman
Viva, Minggu, 31 Mei 2020.
Berdasarkan data tersebut, IDAI menilai
bahwa rencana pembukaan sekolah di tengah angka penularan dan kematian
anak akibat corona tinggi, sangat berisiko terhadap anak. “Kami sangat
khawatir dengan kondisi saat ini untuk kita coba-coba. Karena setiap
anak semua berisiko, tidak ada anak umur segini lebih tinggi, tidak,
risikonya (penularan) adalah dia sering keluar atau orang tua pulang
bawa virus ini,” ujarnya.
Kendati demikian, IDAI belum menerima
keputusan soal pembukaan sekolah. Tapi menurut dr Aman, sudah banyak
anggota IDAI di daerah yang dimintai pertimbangan oleh pemerintah
daerah, bupati/wali kota, terkait rencana pembukaan sekolah di daerah.
“Akhirnya mereka bicara ke pemda, ke
kepala dinas, akhirnya ditunda. Anjuran kami sebaiknya kita lakukan
(pembukaan sekolah) sampai Desember. Kita butuh waktu analisa apakah
sudah bisa (sekolah dibuka) sampai Desember, karena ini kasusnya masih
meningkat,” ujar dr Aman.
Sementara
itu, terkait petisi “Tunda untuk Tahun Ajaran Baru Sekolah Selama
Pandemik Corona” yang dibuat oleh salah seorang warga yang memiliki anak
usia sekolah, hingga kini telah ditandatangani sebanyak 56ribu. (*/viva)







0 Komentar